Postingan

Hari Ulang Tahun | Catatan Kelam

Gambar
Hari Ulang Tahun Hari ini usiaku bertambah, namun di alam lain, usiaku berkurang. Pembukaan di hari usiaku 16 tahun ini menyedihkan. Sebuah mimpi yang menikam tajam lubuk hatiku, membuatku menangis ketika bangun tidur. Aku menulis ini pada jam 3.08. Terbangun. Sebab mimpi itulah yang membuatku terbangun. Mimpi itu muncul lagi. Mimpi yang berasal dari derita masa kecilku yang berlanjut sampai sekarang. Derita yang tak kunjung padam. Penyiksaan batin yang mengutukku menjadi seorang pemurung, penangis, pemarah, perusak, dan sebagainya. Mimpi dari trauma masa kecil. Masa kecil yang kelam, menyisakan derita dan kesedihan mendalam untuk jiwaku di masa sekarang. Masa kecil yang kelam itu membentuk pribadi ku yang cengeng dan mudah putus asa. Mereka yang ada di masa lalu dan di masa sekarang merenggut semuanya. Semuanya. Bukan sekali atau dua kali aku mengalami mimpi yang setiapku terbangun menanggalkan air mata. Tetapi berkali-kali dengan jarak waktu yang cukup jauh. Aku selalu menye...

Dm Diary's #1 Kembali bergulat dengan rasa ini.

   Padahal aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk berhenti menangisimu setiap malam dikala rindu menghampiri. Tapi aku mengingkari diri sendiri dan tercebur kembali ke dalam lautan duri yang tajam yang diibaratkan sebagai rindu yang menyiksa.    Lagi-lagi aku membohongi diri sendiri. Menyatakan tidak ingin rindu tapi tetap merindu. Ingin pergi dan menghapus kamu nyatanya malah mengingatmu. Berusaha melupai justru tambah memikiri.    Terkadang merasa bodoh sendiri jadinya kalau setiap hari begini. Mengharapkan si bayangan semu hadir di sini untuk mengobati rasa yang terluka dan terbawa lari. Ingin membuatnya mati tapi tidak, kata nurani.    Ditambah dengan hadirnya kamu di mimpi membuatku semakin mengingkari diri sendiri. Lebih dalam menyelam dan hampir tak bisa bernafas karena nafas sudah dihisap habis oleh air mata.    Mulut ini kaku untuk mengatakan rindu dan bosan dengan kata itu. Tapi bagaimana lagi? Habis aku ingin berte...

Mimpi pun berharap menjadi nyata. (Special kingdom Venus #1)

MIMPI PUN BERHARAP MENJADI NYATA.      Jam wekker berdering dengan sangat keras sehingga membuat Gwen terbangun. Membenamkam diri di balik selimut tebal nan hangat dengan wajah khasnya yang menggemaskan. Perlahan-lahan matanya membuka. Gwen berusaha bangun dan keluar dari selimut tebal lalu melihat jam. Sudah pukul 7, pikirnya. Kakinya melangkah dengan gontai menuju balkon luar kamar untuk mengambil handuk dan ia langsung meluncur ke kamar mandi.     Setibanya di sekolah, Gwen selalu disambut dengan ejekan kecil yang dilakukan oleh Fadera dan kawan-kawan. Baginya itu sudah hal biasa. Bahkan sampai dianggap sebagai makanan atau sarapan pagi.    “Hei pengkhayal. Kemana Peri Payungmu?! Haha.” Gumam Fadera serta diikuti tawaan oleh para gerombolannya yang terdiri dari empat orang.    Gwen tidak pernah meladeni keempat cecunguk itu. Langkahnya cepat untuk menuju loker. Rambut diikat satu, jam tangan berbentuk strawberry yang tak pernah l...

Aku (masih) ada.

Aku masih ada.     Banyak lagu yang kudengar setelah kepergian kamu, dan kamu harus mendengarkannya. Antara lain, Tahu Diri, Perahu Kertas, Cinta Salah, dan masih banyak lainnya. Semua dari lirik itu menggambarkan kehidupanku sekarang setelah berlalunya kamu dari kehidupan nyata ini.      Aku kira, aku terminal. Tapi ternyata, aku hanyalah halte. Teoriku mungkin salah tentang ini, tapi aku masih belum mengerti tentang rasa. Kita berdua. Perasaan kita berdua. Rutinitas ku berubah hari demi hari, tak ada kamu, itu sudah pasti. Kau pergi meninggalkan bayang yang selalu terkenang. Terkadang aku ingin menanyakan bagaimana hari kamu tanpa ku di sana? Apa kamu senang selama tidak adanya aku? Apa kamu dapat tersenyum tulus? Dan pertanyaan terbesarku adalah, apa kamu sedang jatuh cinta dengan wanita lain? Aku tahu diri, tak berhak untuk mengurusi hubungan percintaanmu dengan siapapun. Tak ada kewajiban dan kewenangan untuk mengurusi seluruh sisi kehidupanmu. Tapi, ...

Bukan Aku.

Bukan aku.    Ternyata dengan hilangnya arah kapalku berlayar membuat semua penumpang di kapal kebingungan dan panik. Karena ternyata sang nahkoda sudah mati karena hati. Mengapa bisa terjadi? Karena mungkin dewa-dewi yang menjaga hati sudah tak ada lagi di sana. Mereka hanya singgah sementara tanpa harus menduduki selamanya. Sebenarnya, mereka semu. Tapi sang nahkoda menganggappnya bahwa dewa-dewi itu realistis.  Setidaknya seperti itulah ilustrasi yang menggambarkan pada diriku saat ini. Aku menjadi sang nahkodanya, dan kapalnya adalah diriku sendiri. Sedangkan para penumpangnya adalah susunan organel-organel yang berada di dalam diri. Ketika sang nahkoda dalam diri mati, yakni hati. Maka semuanya akan sirna. Ini teoriku. Tak usah percaya karena aku tidak ingin kau percaya lagi.     Mungkin beberapa orang menganggap aku bodoh karena terlalu remeh untuk mengurusi hal yang berbau kenangan. Bodoh karena selalu menyepelakan perasaan yang bernama......
Masih seperti dongeng.  Waktu pernah mempertemukan kita dalam keadaan yang tepat. Dan ternyata waktu pernah memisahkan kita juga sampai sekarang. Bosan aku dengan tidur dan penat aku dengan mimpi. Setiap bangun tidur, selalu saja rindu menghampiri, menggampar, dan menyiksa diri dalam ruangan yang gelap ini.   Rasanya, aku tak mampu bergerak menuju ruang lain selain ruang ini. Karena di ruang ini, aku tenggelam dalam khayalku yang berisi kamu. Karena di ruang ini, segala sesuatu menyangkutmu selalu menjadi rindu. Aku tak berani melangkah keluar dari ruang ini karena aku takut, aku akan melupakanmu. Setiap kali langkahku berderap mencoba keluar, tapi selalu tertahan oleh keinginan yang separuh masih tertinggal di ruang ini.  Ruang ini sama saja dongeng untukku, bukan kehidupan nyata. Aku tak bisa menjadi realistis jika memikirkan kamu. Karena pada kenyataannya, kamu dan aku berbeda kasta sekarang. Tak ada lagi kata temu, bayang-bayang temu benar-benar ...

Serpihan kata di Jendela

Tinggalkan Rindu yang kau buat seperti tombak Besar, panjang dan berat jika kupegang Diujungnya tumpul sehingga menyakitkan Kamu, Sekarang seperti air yang sulit untuk ku genggam Tangisku sekarang tak berarti Dan setiap kala merindukanmu, aku tak berdaya Mengapa tak kau tinggalkan saja semuanya? Jangan berdiri  di depan pintu Karena aku, Sang pemilik pintu ingin mengunci rapat-rapat Mengapa tak kau hapuskan saja semuanya? Semua rasa yang masih tertinggal Semua kenangan yang terukir dalam hati Agar tak ada yang saling tersakiti Mengapa tak kau hancurkan saja mimpi? Mimpi yang dulunya selalu bermakna dan berarti Mimpi yang berjanji akan digapai bersama Mimpi yang tak lagi sekedar mimpi Karena katamu,  Dengan Cinta, Mimpi akan mekar seperti bunga sakura.  Terhapus Tentang sebuah rindu yang mungkin takkan pernah terbalas Yang bahkan diingatpun tidak pernah . Seolah-olah semua menghilang dalam bayang...