Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

Aku (masih) ada.

Aku masih ada.     Banyak lagu yang kudengar setelah kepergian kamu, dan kamu harus mendengarkannya. Antara lain, Tahu Diri, Perahu Kertas, Cinta Salah, dan masih banyak lainnya. Semua dari lirik itu menggambarkan kehidupanku sekarang setelah berlalunya kamu dari kehidupan nyata ini.      Aku kira, aku terminal. Tapi ternyata, aku hanyalah halte. Teoriku mungkin salah tentang ini, tapi aku masih belum mengerti tentang rasa. Kita berdua. Perasaan kita berdua. Rutinitas ku berubah hari demi hari, tak ada kamu, itu sudah pasti. Kau pergi meninggalkan bayang yang selalu terkenang. Terkadang aku ingin menanyakan bagaimana hari kamu tanpa ku di sana? Apa kamu senang selama tidak adanya aku? Apa kamu dapat tersenyum tulus? Dan pertanyaan terbesarku adalah, apa kamu sedang jatuh cinta dengan wanita lain? Aku tahu diri, tak berhak untuk mengurusi hubungan percintaanmu dengan siapapun. Tak ada kewajiban dan kewenangan untuk mengurusi seluruh sisi kehidupanmu. Tapi, ...

Bukan Aku.

Bukan aku.    Ternyata dengan hilangnya arah kapalku berlayar membuat semua penumpang di kapal kebingungan dan panik. Karena ternyata sang nahkoda sudah mati karena hati. Mengapa bisa terjadi? Karena mungkin dewa-dewi yang menjaga hati sudah tak ada lagi di sana. Mereka hanya singgah sementara tanpa harus menduduki selamanya. Sebenarnya, mereka semu. Tapi sang nahkoda menganggappnya bahwa dewa-dewi itu realistis.  Setidaknya seperti itulah ilustrasi yang menggambarkan pada diriku saat ini. Aku menjadi sang nahkodanya, dan kapalnya adalah diriku sendiri. Sedangkan para penumpangnya adalah susunan organel-organel yang berada di dalam diri. Ketika sang nahkoda dalam diri mati, yakni hati. Maka semuanya akan sirna. Ini teoriku. Tak usah percaya karena aku tidak ingin kau percaya lagi.     Mungkin beberapa orang menganggap aku bodoh karena terlalu remeh untuk mengurusi hal yang berbau kenangan. Bodoh karena selalu menyepelakan perasaan yang bernama......
Masih seperti dongeng.  Waktu pernah mempertemukan kita dalam keadaan yang tepat. Dan ternyata waktu pernah memisahkan kita juga sampai sekarang. Bosan aku dengan tidur dan penat aku dengan mimpi. Setiap bangun tidur, selalu saja rindu menghampiri, menggampar, dan menyiksa diri dalam ruangan yang gelap ini.   Rasanya, aku tak mampu bergerak menuju ruang lain selain ruang ini. Karena di ruang ini, aku tenggelam dalam khayalku yang berisi kamu. Karena di ruang ini, segala sesuatu menyangkutmu selalu menjadi rindu. Aku tak berani melangkah keluar dari ruang ini karena aku takut, aku akan melupakanmu. Setiap kali langkahku berderap mencoba keluar, tapi selalu tertahan oleh keinginan yang separuh masih tertinggal di ruang ini.  Ruang ini sama saja dongeng untukku, bukan kehidupan nyata. Aku tak bisa menjadi realistis jika memikirkan kamu. Karena pada kenyataannya, kamu dan aku berbeda kasta sekarang. Tak ada lagi kata temu, bayang-bayang temu benar-benar ...