Bukan Aku.

Bukan aku.

   Ternyata dengan hilangnya arah kapalku berlayar membuat semua penumpang di kapal kebingungan dan panik. Karena ternyata sang nahkoda sudah mati karena hati. Mengapa bisa terjadi? Karena mungkin dewa-dewi yang menjaga hati sudah tak ada lagi di sana. Mereka hanya singgah sementara tanpa harus menduduki selamanya. Sebenarnya, mereka semu. Tapi sang nahkoda menganggappnya bahwa dewa-dewi itu realistis. 
Setidaknya seperti itulah ilustrasi yang menggambarkan pada diriku saat ini. Aku menjadi sang nahkodanya, dan kapalnya adalah diriku sendiri. Sedangkan para penumpangnya adalah susunan organel-organel yang berada di dalam diri. Ketika sang nahkoda dalam diri mati, yakni hati. Maka semuanya akan sirna. Ini teoriku. Tak usah percaya karena aku tidak ingin kau percaya lagi. 

   Mungkin beberapa orang menganggap aku bodoh karena terlalu remeh untuk mengurusi hal yang berbau kenangan. Bodoh karena selalu menyepelakan perasaan yang bernama.... ah itulah. Aku tak sanggup buat mengucapkan kata itu lagi. Karena aku bosan.

   Dulu sekali, entah zaman apa. Tapi aku masih ingat kala itu angin September berhembus. Putra kerajaan dari planet lain datang ke dalam planet ku dan mengubrak-ngabrik sang ratu, yakni aku. Ya, aku merupakan ratu dari segala kerajaan di Unknown planet. Putra kerajaan itu berhasil menjajah hatiku dan menghancurkan perlahan-lahan. Padahal dulunya, di tatanan kerajaan ku tak mengenal yang namanya patah hati apalagu jatuh cinta. Maka karena itu di planet ku tak ada yang menjalin hubungan. Semuanya hidup sendiri-sendiri tanpa memiliki perasaan. 

   Aku kira cukup dengan pembukaan berkhayal itu, kali ini mau langsung ke intinya. 

   Semenjak perpisahan terjadi, tak ada lagi komunikasi, tak ada lagi kata hati, dan tak ada lagi hubungan jiwani. Semuanya benar-benar berubah. Revolusi hati datang. Entah sampai kapan terjadi begini. Takdir Tuhan adalah yang paling baik untuk mengatasi semuanya. Termasuk kamu yang menyelinap masuk ke dalam duniaku dan menjelajah di dalam kepalaku. 
Tulisanmu, selalu menjadi hal yang paling kusuka. Menjadi bacaan yang paling kucinta daripada buku pelajaran dan ilmu kehidupan lainnya. Karena dalam tulisanmu lengkap sudah semuanya tertuang. Aksara-aksara indahmu menenangkan hati dan selalu membuat kedua sudut bibir terangkat. Aksara indahmu membawaku terbang ke dunia puitis mu. Meyakini hati bahwa kamulah yang akan menjadi milikku sampai nanti. Dan aku sangat yakin bahwa di setiap frasa yang kau buat, aku merasa terselip di dalamnya. Aku merasa bahwa karya yang kau buat ya buat aku. Bukan yang lain. 

   Tapi karena waktu sudah tua, waktu sudah tidak muda lagi, waktu mungkin ingin berpamit pulang. Maka terjadilah perubahan yang tak bisa kusadari dengan akal sehat. Seolah-olah makna tersirat (aku) tak ada lagi di tulisanmu sekarang, aksara indahmu tetap mengalir tenang tapi tak ada aku yang kau tuju lagi. 

   Semua mimpi yang kurancang sedemikian rupa hilang diterka badai topan. Ia membawanya ke dalam lingkaran corong sialnya. Membuang kamu dan semuanya. Semuanya. Sampai aku tercekat seperti ingin mati. Lagi dan lagi karena rasa yang persetan itu. Cukup.

Cukup.

   Aku menerjang semua masa lalu, mencari seluk beluk dan mencoba menjawab mengapa rasa persetan itu tetap ada? Kenapa dengan sekian lamanya kita tidak saling kontak, rasa itu tetap ada? Rasa itu ada, aku benci. 

   Aku mencoba tahu diri sekarang, tulisanmu bukan buatku lagi. Aku yang salah. Tak seharusnya aku terus merindukan bayang-bayang yang tak akan pernah menjadi benda berwujud, merindukan air yang tak akan pernah bisa dengan mudahnya digenggam. Kau sama seperti semua itu. Sekarang, kamu SEMU. 
Semua, bukan aku lagi. Entah siapa.


And for now, i miss you again. Sorry.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku (masih) ada.

Mimpi pun berharap menjadi nyata. (Special kingdom Venus #1)