Mimpi pun berharap menjadi nyata. (Special kingdom Venus #1)
MIMPI PUN BERHARAP MENJADI NYATA.
Setibanya di sekolah, Gwen selalu disambut dengan ejekan kecil yang dilakukan oleh Fadera dan kawan-kawan. Baginya itu sudah hal biasa. Bahkan sampai dianggap sebagai makanan atau sarapan pagi.
“Hei pengkhayal. Kemana Peri Payungmu?! Haha.” Gumam Fadera serta diikuti tawaan oleh para gerombolannya yang terdiri dari empat orang.
Gwen tidak pernah meladeni keempat cecunguk itu. Langkahnya cepat untuk menuju loker. Rambut diikat satu, jam tangan berbentuk strawberry yang tak pernah lepas dari pergelangan tangan kirinya, tas berwarna hitam pekat disertai gantungan kunci huruf G terbuat dari besi, serta tidak ketinggalan buku diary hitam pekat juga yang selalu dipeluk yang sudah menjadi ciri khas Gwen. Semua itu menggambarkan perempuan satu ini menjadi julukan ‘perempuan pengkhayal’ di seantero sekolah.
“Oh, ternyata masih setia dengan buku itu.” Fadera masih bergerutu.
Loker terbuka, Gwen memasukkan barang-barang penting di dalam loker itu. Sudah seperti diapit beberapa pulau, di sebelah kanan Gwen terdapat Fadera dan dua temannya sedangkan di sebelah kiri Gwen terdapat seorang perempuan lagi.
Loker tertutup keras, Gwen menatap tajam mata hijau koral milik Fadera.
“Berhenti mengusikku nenek gerondong.” Ucap Gwen datar tapi ditekankan di setiap kalimat. Selanjutnya Gwen meninggalkan empat perempuan itu.
“Apa?! Dia menyebutku nenek gerondong?! Sialan memang cecunguk itu!!!” Geram Fadera dengan gaya celebration kekesalannya.
*
Gwen membuka perlahan lalu menuliskan kekesalannya di lembar kosong.
Venus,
Aku rasa aku belum kuat untuk menyerang kerajaan lain. Dan aku rasa, aku lemah mempertahankan kerajaanmu. Aku harus membuat benteng Nus. Aku berharap Breadboy datang dengan selai strawberry nya yang bisa mematikan siapa saja.
Bel pelajaran terakhir terdengar. Yang terlihat paling antusias mendapatkan bel itu berbunyi nyatanya adalah Gwen. Semangatnya kembali lagi karena ia tak sabar ingin bermain di belakang rumahnya.
“Materi akan dilanjutkan minggu depan. Selamat siang anak-anak.”
Ucapan terakhir dari guru yang mengajar di ruangan itu keluar dengan langkah besarnya. Gwen bergegas menuju keluar ruangan dan jingkrak-jingkrakan untuk ke rumah.
“Hey perempuan aneh!”
Merasa dirinya terpanggil, Gwen menoleh ke belakang serta berhenti melangkah lagi. Dan benar saja, ada sosok tinggi tegap dengan dada bidangnya yang sedang melempar tatapan datar ke arahnya. Kemudian sosok itu berjalan mendekat.
“Kau yang bernama Gwen?” Tanya lelaki itu datar.
“Darimana kau tahu?” Gwen balik bertanya.
Lelaki itu memutar Gwen seratus delapan puluh derajat dengan memegang tas Gwen.
“Ini,” Tukasnya seraya menunjuk jahitan benang besar yang mengukir sebuah nama dirinya di tas.
Gwen berbalik lagi sehingga posisinya sekarang menjadi berhadapan dengan lelaki asing ini.
“Kau.. siapa?” Tanyanya diberi jeda.
Lelaki itu tak langsung menjawab, mata biru lautnya mengarah ke arah lain dan raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan sesuatu.
“Raja Kepompong,” Ucap lelaki itu.
“Bagaimana bis—“
“Aku sering membaca blog mu. Setiap ada update-an terbaru, akulah yang pertama membaca dan menikmati setiap ritme kalimat yang kau buat dengan khayalanmu itu.” Katanya membuat Gwen menarik seketika.
Mereka berdua berjalan sejajar. Perbedaan yang menonjolkan diantara keduanya adalah tinggi. Lelaki itu tinggi sekali. Sedangkan Gwen hanya sampai sebahunya. Dengan punggung atletis dan postur tubuh demikian membuat Gwen sedikit tidak nyaman karena banyak wanita lain yang memeperhatikannya.
“...Jadi aku tahu siapa saja tokoh yang ada di ceritamu itu. Namanya unik-unik.” Komentarnya demikian. “Tapi sebenarnya belum ada yang paling unik dan paling kusuka. Setelah kupertimbangkan dengan tokoh yang lain, kurasa Raja Kepompong bisa kuambil menjadi peranku.” Sambungnya demikian.
“Tidak.” Kata Gwen melihat datar ke depan.
“Tidak apa?”
“Kau tidak pantas menjadi Raja Kepompong.” Kata Gwen mempercepat langkahnya.
Lelaki itu mengejarnya, menyamakan lagi posisi berjalannya agar sejajar.
“Memangnya kenapa? Hmmm aku menjadi Penyihir Dai Keledai saja?” Gumamnya lagi, Gwen semakin mempercepat langkahnya. Ia kacau. Imajinasinya kacau.
“Tidak!”
“Apa aku boleh menjadi Drimia?”
“Tidak tidak tidak! Tinggalkan aku!” Gwen berlari secepat kilat berhasil meninggalkan lelaki asing yang tidak dikenal itu. Nama saja tidak tahu, sudah menawarkan dirinya menjadi salah satu peran di ceritanya. Pfft.
*
Sepulang dari sekolah terkutuk itu Gwen tidak langsung ke dalam rumah melainkan berlari ke belakang rumah yang dimana selama ini menjadi tempat tinggal keduanya. Halaman belakang rumah Gwen sangat luas. Bisa dibilang seperti hutan karena setelah hamparan rumput hijau luas terdapat pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi.
Tas hitam itu tersungkur di atas rerumputan. Gwen berputar-putar seraya memejamkan mata berharap kehadiran tokoh-tokoh yang dipikirkannya datang.
“Drimia!!!!” Teriak Gwen setelah berhenti berputar.
Gadis mungil itu berlari menuju dua pohon yang berhadapan sama besar. Di sana ada kain yang diikat di kedua batang pohon untuk menjadi tempat tidur. Di atas pohon terdapat rumah kecil yang menjadi penyimpanan segala mimpi penting bagi Gwen. Sang ayah yang membuat rumah pohon itu.
Gwen membuka buku diary nya lagi kemudian menuliskan apa yang seharusnya ditulis.
Venus,
Nus, tolong kirimkan Drimia ke sini karena aku sangat membutuhkannya. Sekalian pasukan mu kirimkan ke sini karena aku membutuhkannya untuk membangun kerajaan di bumi. Tepatnya di belakang rumahku, sepertinya daerah ini cukup luas bagiku untuk membangun kerajaan kecil. Nanti malam kutunggu ya!
Dilempar begitu saja buku yang baru diisi dengan khayalan itu. Gwen lincah menaiki anak tangga untuk mencapai rumah pohon.
Pintu rumah pohon itu sudah cukup rapuh. Rumah pohon itu sendiri berbentuk seperti kapal. Gwen menginjakan kakinya ke dalam rumah itu.
“Sudah berapa lama aku tidak ke sini.” Gumamnya.
Jemari mungil menyentuh dinding yang terbuat dari kayu, meresapi setiap sudut ruangan dan tenggelam dalam imajinasinya lagi. Rumah pohon sudah seperti taman bacaan baginya. Mungkin orang lain juga akan bilang seperti itu karena terdapat empat rak buku besar yang berisikan buku dongeng semua.
Ditemukan sebuah teropong kecil serta tongkat berpucuk mahkota yang tergeletak di samping lemari besar urutan ke dua dari pintu masuk. Gwen menyambarnya lalu mematung di jendela rumah pohon.
Gadis itu menerawang kejauhan dengan teropong kecil serta mengangkat tongkat berpucuk mahkota tinggi-tinggi.
“Hei para kurcaci Gardenus! Kita akan membela kerajaan ini dengan tenaga yang kita punya! Bersiap untuk melawan musuh! Musuh kita adalah kerajaan Kaleng dan Botol! Bersiap untuk berperang sampai akhir! Merdeka!”
Sudah seperti orang gila, Gwen teriak sehingga suaranya bergema ke seluruh hamparan luas itu. Ia sangat menikmati dunianya sendiri. Tenggelam terlalu dalam ke lautan mimpi dan imajinasi. Walaupun kata orang lain itu semua tidak realistis, dengan kekuatan memori dan kesungguhan hati, Gwen yakin semua itu akan terwujud.
Sampai jumpa di bab berikutnya! Kritik dan saran terbuka. Salam pasukan Venus!
Komentar
Posting Komentar