Aku (masih) ada.
Aku masih ada.
Banyak lagu yang kudengar setelah kepergian kamu, dan kamu harus mendengarkannya. Antara lain, Tahu Diri, Perahu Kertas, Cinta Salah, dan masih banyak lainnya. Semua dari lirik itu menggambarkan kehidupanku sekarang setelah berlalunya kamu dari kehidupan nyata ini.
Aku kira, aku terminal. Tapi ternyata, aku hanyalah halte. Teoriku mungkin salah tentang ini, tapi aku masih belum mengerti tentang rasa. Kita berdua. Perasaan kita berdua.
Rutinitas ku berubah hari demi hari, tak ada kamu, itu sudah pasti. Kau pergi meninggalkan bayang yang selalu terkenang. Terkadang aku ingin menanyakan bagaimana hari kamu tanpa ku di sana? Apa kamu senang selama tidak adanya aku? Apa kamu dapat tersenyum tulus? Dan pertanyaan terbesarku adalah, apa kamu sedang jatuh cinta dengan wanita lain? Aku tahu diri, tak berhak untuk mengurusi hubungan percintaanmu dengan siapapun. Tak ada kewajiban dan kewenangan untuk mengurusi seluruh sisi kehidupanmu. Tapi, selama rindu ini masih menyatu, ku rasa aku harus tau apa yang kamu lakukan di sana. Terserah ingin bilang bahwa aku ingin tahu urusan orang setengah mati atau mungkin bilang aku dengan kasarnya, “memangnya kamu siapa?”
Di luar, aku memang normal menjalani hidup. Tidak dengan hati yang masih mati terkubur dalam-dalam karena kamu hancurkan. Semuanya tak ada yang tersisa. Asal kau tahu. Aku sakit. Setengah mati. Menahan beban yang sangat berat. Mungkin binatang paling besar seantero dunia pun kalah dengan rasa yang kutanggung ini. Hampir kehabisan kata-kata untuk melukiskan bagaimana perasaan kamu sepanjang ini tanpa kamu dan untuk kamu.
Coba kamu lihat apakah aku masih ada di dalam hatimu? Apa perasaan mu masih sama seperti yang dulu? Ataukah semuanya hanya semu?
Diam, menangis, menyesal. Dan segala hal yang menyakitkan sudah kulakukan demi melawan yang menyakitkan juga. Kukira sinonim perasaan jika melawa satu sama lain akan melemahkan perasaan itu juga, tapi nyatanya aku malah mati sendiri dan kalah oleh hati sendiri. Hati yang mati, tapi inang yang masih hidup.
Sejauh apapun jarakmu, aku masih bisa menjangkau mu. Masih bisa menyentuhmu dengan sentuhan hangat, memelukmu dalam gelapnya malam, menyelimuti tubuhmu dengan rasa kerinduan di tengah malam. Atau bahkan tidur bersamamu di sampingmu. Mengecup mu sambil berkata, “selamat malam, cintaku.” Mengelus pipimu dan menatapi mu saat kamu tertidur pulas. Mimoi-mimpi yang beterbangan kamu ikat begitu kuat. Aku tak peduli. Aku masih ingin menatapimu sepenuh hati. Sampai kau terbangun, aku masih ada.
Keinginanku semua mungkin akan terjadi di beberapa tahun ke depan. Jika sang pengatur skenario terbaik telah memerintahkan kepada waktu untuk terjadikanlah waktunya. Waktu dimana aku dan kamu bersama tanpa adanya sekat rindu yang lekat. Dua manusia yang tak bisa dipisahkan dengan kata-kata dan tindakan kriminal lainnya. Kecuali dengan nyawa taruhannya. Walaupun begitu, cintamu masih ada tumbuh di hatiku, sekalipun jasadmu sudah terkubur dalam tanah. Atau jasadku, mungkin.
Berkali-kali lagi aku bilang ke kamu kalau aku kangen. Tangan ini tidak mampu menepis kangen yang tajam seperti pisau dapur atau samurai sekalipun. Karena tangan ini hanya terbuat dari kulit yang elastis, bukan dari besi atau baja. Rindumu itu kuat sekali, melebihi bahan apapun yang kualitasnya internasional di permukaan bumi. Rindumu itu berat sekali. Semua tentangmu sangat menyakitkan, sebenarnya.
Maaf kali ini aku kangen lagi.
Aku kangen kamu.
I know...
I’m going to stop miss you.
Aku kangen kamu :")
BalasHapus