Aku Juga Punya Kisah (short story dan ungkapan)
Entah darimana aku
harus memulainya. Karena perasaanku belum seutuhnya kudapatkan kembali. Setelah
sekian lama kubuang jauh-jauh, sekarang aku memaksakan diriku untuk
mengambilnya kembali dan menceritakannya lagi.
Semoga ruang disini cukup untuk menuliskan apa yang aku
rasakan dan apa yang aku ingat.
Aku punya kisah. Kisah tentang ku yang dulu. Sebelum aku
memulainya, silahkan saja untuk berasumsi segala macam tentangku, silahkan saja
berprasangka buruk atau baik terhadapku, silahkan saja menghakimi atau memvonis
aku bahwa aku bukanlah “baik”. Tapi ingat, itu tanggung jawabmu sendiri, benar
atau tidaknya apa yang kamu pikirkan tentangku, itu bukan urusanku. Aku
hanyalah aku. Aku tidak akan pernah dan tidak ingin pernah menjadi pribadi
lain. Aku akan melakukan hal yang aku suka. Dan aku akan mengevaluasinya
sendiri. Tak mungkin jika aku tidak membutuhkan kritik dan saranmu, sudah jelas
kritik dan saran sangat ku terima. Tetapi kamu tidak sepenuhnya berkuasa atas
sikapku atau perilaku ku. Karena yang bisa mengubahnya adalah aku sendiri.
*
Aku dengar definisi Cinta dari orang-orang itu hampir
semuanya sama, awal yang manis dan berakhir yang menyakitkan. Tergantung orang
yang merasakanya. Itu kalau Cinta yang berlandaskan hawa nafsu. Beda lagi kalau
Cinta karena Allah SWT.
Ya, awal yang manis dengan akhir yang pahit. Seperti
sebuah permen karet. Aku pun merasakannya. Merasakan Cinta karena hawa nafsu.
Bahkan aku pun pernah berada dalam masa jahilliyah ku. Kamu bisa menghakimiku,
tapi seperti yang kubilang tadi tanggung sendiri akibatnya kalau asumsi mu
tidak benar.
Seseorang yang membuatku merasakan kerinduan yang tetap.
Sampai sekarang aku masih merasakannya. Adalah seseorang yang menurutku tidak
harus kenal lebih lama. Atau kenal lebih dekat. Atau yang memberikan kenangan
yang amat indah dan banyak, sehingga tidak bisa melupakannya. Aku bercerita
tentang yang dulu, bukan yang sekarang.
Dulu, aku menyukai dia. Dia yang menurutku memang
kriteriaku. Berbagi sedikit taka pa kan? Toh ini blog ku. Wewenangku dan hak ku
ada di sini. Kau bisa ikut campur. Tapi hanya menilai Bahasa yang kupakai.
Haha. Lanjut ya.
Kenal dia tidak lebih dari setahun. Tapi sekarang, sudah
memasuki bulan September yang dimana tahun lalu aku kenal dia di bulan ini.
Seharusnya bulan ini adalah setahun aku kenal dia, itu pun kalau aku masih
melakukan kontak dengannya. Sekarang saja, mengirim titik pun tidak pernah.
Karena ku yakin kita sudah menemukan jalan hidup masing-masing.
Aku adalah seorang wanita. Yang dulunya, tergila-gila
dengan yang namanya Cinta dan Sayang. Begitu kenal dengannya, secara tak
langsung dia merubahku menjadi berpikir lebih dewasa. Bahwa dewasa bukan
dilihat dari penampilan yang menor, alis yang dibentuk, bibir yang dipakaikan
gincu, serta wajah yang dipoles sana-sini, tetapi dewasa adalah bagaimana sikap
seseorang untuk menghadapi sebuah konflik, bagaimana seseorang untuk
mengendalikan dirinya dan emosinya sendiri. Aku sangat berterima kasih karena
itu.
Kerinduan yang kurasakan makin lama makin memudar seiring
berjalannya waktu. Tetapi wajahnya dan suaranya masih bergema di dalam hatiku.
Kehadirannya masih ada di sisi hati ku. Bahkan untuk melupakannya, hati ku
menolak. Lalu ku putuskan untuk menyimpannya ke dalam lubuk hatiku yang paling
dalam, kemudian ku beri tanda bahwa dia adalah manusia yang mengajari apa itu
kedewasaan, dan manusia yang pernah hadir ke dalam duniaku serta mengisi
hari-hariku dan mewarnainya menjadi hari yang indah. Terima kasih untuk itu.
Kenangan fisik lainnya masih tersimpan rapih dan terjaga
di dalam kamarku. Yaitu fotonya dan juga puisinya. Aku semakin menyukai puisi
karenanya, Bahasa yang dia lantunkan di puisi yang dia bikin begitu indah. Aku
tertarik untuk mencobanya, dank u rasa aku menjadi mahir dalam berkata-kata.
Makanya aku suka puisi. Apalagi puisi dari dia.
Suatu hari yang dimana ‘rasa’ ku untuknya sangat
membuncah, dan ketika itu juga kita putus komunikasi karena ponselnya hilang.
Sedangkan jarak rumahku dan rumahnya sangat jauh. Aku terus menunggu dan
menunggu. Sampai akhirnya kami benar-benar lost
communication.
Hey kamu, andai kamu tahu apa yang kurasakan saat
itu. Saat kamu seolah-olah menghilang dari duniaku, saat kamu seolah-olah
memaksakan diri untuk pergi padahal kau tak ingin melakukannya. Aku nangis
sehebat mungkin. Rasa kehilangan tentu saja ku rasakan. Tapi aku selalu membaca
chattingan kita yang dulu.
Kau tahu? Seolah-olah kau memaksa aku untuk berhenti
menyukaimu, itu sakit. Untung saja bisa ku tahan.
Sampai akhirnya, aku sudah terbiasa menjalani hari-hari
tanpamu. Tanpamu yang biasanya menyapaku, menanyakanku hal yang tak penting,
hingga membuat humor garing untuk topik pembicaraan. Aku sudah terbiasa.
Ku lepaskan semua penatku dan lelahku karena terlalu
merasakan kehilangan dirimu, aku mulai mencari cerita yang lain. Dan aku
menemukan orang baru. Ketika aku bersama orang baru itu. Entah itu takdir atau
memang kebetulan, tapi ku rasa itu memang takdir. Kamu dating menyapaku lewat
social media.
Tentu saja aku senang.
Aku senang karena mendapatkan kabarmu kembali. Tapi
ingatkah kamu sepatah kata “SESUATU YANG PERGI JIKA KEMBALI TAKKAN PERNAH SAMA
LAGI?” sama seperti yang kau bilang waktu itu.
Dan benar, itu sudah terbukti pada kita. ‘Rasa’ ku yang
mula-mulanya untukmu malah memudar. Saat kau pergi, aku mencoba untuk menahan
‘rasa’ itu untuk tidak pergi juga. Untuk tidak ikutpergi bersamamu. Tapi
apadaya, cerita lain menjemputku dan menarik ku untuk menjadi pemerannya.
Alhasil ‘rasa’ ku sudah ku tinggalkan di cerita yang lama, alias kamu. Disaat
aku suda menjadi peran dalam cerita baru, kau dating menyapaku seakan tak
bersalah karena pergi begitu saja. Kau kembali seolah memohon agar kita bersama
lagi. Tak semudah itu. Aku butuh waktu.
Dan di masa sekarang, kejadian demi kejadian suda membuat
kita menjadi kian berubah. Seperti orang asing yang tidak kenal sama sekali.
Berjauhan bagaikan bumi dan matahari. Padahal dulu kita sedekat nadi.
Dulu, yang dimana setiap kau upload sajak. Aku yakin bahwa itu untukku. Tapi sekarang, aku sedikit merasakan kekecewaan karena sajak mu entah untuk siapa. Semanis-manisnya katamu dalam sajak yang kau bikin,aku tidak pernah tersinggung atau merasakan. Karena aku tahu bahwa itu bukan untukku lagi.
Akhirnya, kau yang dulu pergi dengan perasaanku yang kau bawa pergi juga, ketika kau kembali, kita sudah berubah. Semua yang aku rasakan kepadamu kau bawa pergi sampai aku tidak merasakan apa-apa lagi. Tetapi terima kasih karena kau telah menancapkan sebuah rasa yang sampai sekarang masih bisa kurasakan. Yaitu Rindu. 5 huruf 1 kata yang membuatku selalu mengingatmu. Dan sekarang, kita menempuh jalan masing-masing. Aku yakin, aku masih tertanam di dalam memorimu.
Akan kutegaskan sekali lagi, bahwa jika kau ingin memvonis ku kalau aku bukan yang baik-baik, silahkan saja itu urusanmu. Tak berpengaruh kepadaku. Karena aku hanya menerima saran dan kritik. Bukan bullyan atau kecaman. Toh aku hanya menceritakan sebuah masa lalu yang bagiku sangat berarti. Tak bolehkah aku menuangkan sepatah kisahku untuk menciptakan sebuah karya? Kalau tak boleh, bukankah itu melarang atau membatasi seseorang untuk berkarya?
Hey. Kau yang baca. Kau hanyalah pembaca yang memang dasarnya hanya membaca, kemudian mengoreksi apa-apa yang salah dan yang kurang. Tak usah menilai kepribadianku bahwa aku blablabla. Sekalipun kau berlaku begitu, aku tak peduli. Because i do what i want to do for create my creativity.
SAMPAI JUMPA DI BLOG SELANJUTNYA!
Komentar
Posting Komentar